Sejarah Ukulele Dunia dan Indonesia Lengkap
Ukulele kini dikenal sebagai alat musik berdawai yang ceria dan mudah dimainkan. Namun, perjalanan sejarahnya cukup panjang dan melintasi benua. Oleh karena itu, memahami asal-usul ukulele tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkaya apresiasi terhadap musik yang dihasilkannya.
Awal Mula Ukulele di Dunia
Sejarah ukulele bermula pada akhir abad ke-19 di Kepulauan Hawaii. Saat itu, imigran asal Madeira, Portugal, membawa alat musik kecil bernama braguinha atau machete. Salah satu pembuat alat musik yang berperan penting ialah Manuel Nunes. Ia bersama Augusto Dias dan Jose do Espirito Santo memperkenalkan instrumen tersebut kepada masyarakat lokal.
Selanjutnya, masyarakat Hawaii mengadaptasi alat musik tersebut dan menamainya “ukulele”, yang berarti “kutu loncat”. Nama ini merujuk pada gerakan cepat jari pemain saat memetik senar. Selain itu, Raja Kalakaua dari Kerajaan Hawaii turut mempopulerkan ukulele di lingkungan istana. Karena dukungan kerajaan, ukulele cepat menyebar ke berbagai kalangan.
Memasuki awal abad ke-20, ukulele mulai dikenal di daratan Amerika Serikat. Pameran Panama-Pacific International Exposition 1915 di San Francisco mendorong popularitas musik Hawaii, termasuk ukulele. Sejak itu, produsen alat musik di Amerika memproduksi ukulele secara massal. Bahkan, pada era 1920-an, ukulele menjadi simbol musik populer dan jazz ringan.
Baca Juga: 4 Alasan Cajon Makin Populer di Musik Akustik
Perkembangan Ukulele di Indonesia
Di Indonesia, ukulele berkembang melalui pengaruh musik Portugis dan budaya kolonial. Musik keroncong menjadi pintu masuk utama. Alat musik seperti cak dan cuk dalam orkes keroncong memiliki hubungan erat dengan ukulele.
Seiring waktu, musisi Indonesia mengadaptasi ukulele untuk berbagai genre. Selain keroncong, pemain memanfaatkan ukulele dalam pop, folk, hingga musik indie. Komunitas ukulele juga tumbuh di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Bahkan, mereka rutin mengadakan pertemuan dan pertunjukan untuk memperluas minat masyarakat.
Lebih jauh lagi, media sosial mempercepat penyebaran tren bermain ukulele. Banyak musisi muda membagikan tutorial serta penampilan mereka secara daring. Karena itu, generasi baru semakin mudah mempelajari alat musik ini tanpa harus mengikuti pendidikan formal.
Jenis-Jenis Ukulele yang Populer
Ukulele memiliki beberapa jenis utama yang dibedakan berdasarkan ukuran dan jangkauan nada. Setiap jenis menawarkan karakter suara yang berbeda.
1. Ukulele Soprano
Soprano merupakan ukuran paling kecil dan paling tradisional. Panjangnya sekitar 21 inci. Suaranya nyaring dan cerah. Oleh sebab itu, banyak pemula memilih tipe ini karena ringan dan mudah dibawa.
2. Ukulele Concert
Concert sedikit lebih besar dari soprano, dengan panjang sekitar 23 inci. Ruang fret yang lebih lebar memudahkan pemain dewasa. Selain itu, suaranya terdengar lebih penuh dibandingkan soprano.
3. Ukulele Tenor
Tenor memiliki panjang sekitar 26 inci. Banyak musisi profesional memilih tenor karena proyeksi suaranya lebih kuat. Bahkan, tipe ini sering digunakan untuk pertunjukan panggung.
4. Ukulele Baritone
Baritone merupakan ukuran terbesar, sekitar 30 inci. Berbeda dari tipe lain, baritone menggunakan penyetelan mirip empat senar gitar bagian atas (D-G-B-E). Karena itu, gitaris sering beralih ke baritone dengan mudah.
Peran Ukulele dalam Musik Modern
Saat ini, ukulele tidak lagi terbatas pada musik tradisional Hawaii atau keroncong. Musisi internasional maupun lokal memanfaatkannya dalam produksi rekaman modern. Selain itu, produsen alat musik terus berinovasi dengan menghadirkan ukulele elektrik dan akustik-elektrik.
Kesimpulannya, sejarah ukulele menunjukkan perjalanan budaya yang dinamis. Dari Madeira ke Hawaii, lalu menyebar ke Amerika dan Indonesia, ukulele terus beradaptasi mengikuti zaman. Dengan berbagai jenis yang tersedia, siapa pun dapat memilih sesuai kebutuhan dan gaya bermain. Oleh karena itu, ukulele tetap relevan dan diminati hingga sekarang.